Dispraksia Pada Anak: Pahami Penyebab, Gejala, Hingga Cara Mengatasinya

Masa anak-anak merupakan masa emas untuk Moms mengajarkan berbagai aktivitas sesuai dengan usianya. 

Lalu, bagaimana jika si kecil tidak bisa melakukan beberapa aktivitas seperti yang dilakukan anak seusianya? 

Kondisi seperti ini harusnya membuat Moms memberikan perhatian ekstra kepada anak. 

Pasalnya, keterlambatan perkembangan anak dibanding dengan teman seusianya terkait bisa saja karena dispraksia. 

Nah, artikel berikut akan membahas tentang hal ini. Simak di bawah ini ya, Moms! 

Apa Itu Dispraksia? 

Dispraksia

Mom, pernah nggak mendengar tentang dispraksia? Mungkin Moms pernah mendengar mengenai hal ini pada sebuah kesempatan. 

Nah, kali ini akan dibahas seputar dispraksia, agar bisa menjadi referensi untuk Moms mengenai tumbuh kembang anak. 

Dispraksia (Dyspraxia: developmental coordination disorder) menurut Kemenkes RI adalah gangguan umum yang memengaruhi gerakan dan koordinasi. 

Definisi ini juga yang menjadikan Dyspraxia dikenal sebagai gangguan kondisi perkembangan yang memengaruhi keterampilan koordinasi. 

Beberapa aktivitas yang memerlukan keseimbangan, misalnya olahraga dan belajar mengemudikan mobil. 

Selain itu, juga memengaruhi keterampilan motorik halus, seperti menulis atau menggerakkan benda-benda kecil. 

Kondisi ini sebenarnya tidak dapat terdeteksi sejak lahir, meskipun merupakan kelainan bawaan. 

Meski demikian, bisa diidentifikasi dengan terlambatnya seorang anak mencapai suatu titik perkembangan yang seharusnya sudah dicapai oleh anak seusianya. 

Sehingga, kasus ini bisa terjadi pada siapa saja, meskipun lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibanding anak perempuan. 

Penyebab Dispraksia Pada Anak 

Dispraksia

Dispraksia pada anak tidak terkait dengan tingkat kecerdasan ya, Moms. 

Akan tetapi, perlu Moms ketahui bahwa kondisi ini bisa mengakibatkan menurunnya kemampuan penderita untuk belajar.

Baca Juga: Gejala Rabies Pada Manusia, Benarkah Bisa Menyerang Anak-Anak? Ketahui Jawabannya!

Sehingga, Moms perlu mengetahui penyebabnya pada anak agar terhindar dari hal ini. 

Kemenkes RI menjelaskan bahwa penyebab kasus ini belum dapat dipastikan. Meski demikian, kondisi ini diduga bisa terjadi karena gangguan perkembangan saraf di otak. 

Akibatnya, aliran sinyal saraf yang berasal dari otak ke seluruh tubuh menjadi terganggu. 

Padahal, seluruh koordinasi dan pergerakan anggota tubuh seseorang bisa dilakukan dengan adanya kerja saraf otak. Sehingga, seorang anak bisa mengalami dispraksia.

Gejala Dispraksia Pada Anak 

Dispraksia

Anak-anak adalah objek utama dispraksia, meskipun pada beberapa kasus ditemui pula pada remaja dan dewasa. 

Kondisi ini menjadikan gejala pada anak berbeda dengan remaja atau dewasa.  

Berikut beberapa gejala pada anak dilansir dari laman Kemenkes RI. 

Bertingkah Laku Ceroboh 

Seorang yang memiliki dispraksia biasa ceroboh dalam kehidupannya sehari-hari. 

Hal ini bisa ditunjukkan dengan sering terbentur ketika sedang berjalan dan menjatuhkan barang-barang. 

Sulit Berkonsentrasi 

Sulit berkonsentrasi adalah salah satu gejala dispraksia pada anak. 

Kondisi ini menjadikan seorang anak kemudian tidak bisa mengikuti perintah yang diberikan oleh orang lain. 

Selain itu, juga sulit mengingat informasi. 

Oleh karena itu, anak biasanya tidak mampu menyelesaikan tugas sekolah dan “dianggap” malas. 

Padahal, ketidakmampuan ini disebabkan karena anak sulit berkonsentrasi. 

Tidak Bisa Mengontrol Perilaku Diri 

Gejala dispraksia yang lain adalah tidak bisa mengontrol perilaku diri. 

Sebabnya seorang anak memiliki gangguan motorik pada otak sehingga perilakunya sering tidak terkontrol. 

Kondisi ini menjadikan anak tidak bisa berperilaku baik, baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekolah. 

Sulit Menyelesaikan Tugas 

Sulit menyelesaikan tugas termasuk gejala dispraksia pada anak. 

Kondisi ini disebabkan karena gangguan pada saraf otak menjadikan kerja tubuh juga terganggu. 

Terganggunya kerja tubuh menjadikan anak tidak mampu menyelesaikan tugas-tugasnya, baik di sekolah maupun di rumah. 

Sulit Mempelajari Informasi Baru 

Anak dispraksia bisa ditandai dengan gejala sulit mempelajari informasi baru. 

Hal ini dikarenakan anak mengalami kesulitan konsentrasi sehingga tidak bisa memproses informasi baru. 

Keadaan ini menjadikan seorang anak mengalami perkembangan yang tidak sama dengan teman-teman seusianya. 

Sulit Mendapatkan Teman Baru 

Gejala anak dispraksia bisa ditunjukkan dengan sulit mendapatkan teman baru. 

Kondisi ini dipengaruhi oleh ketidakmampuan anak mengontrol perilaku diri. 

Sehingga seorang anak akan merasa tidak percaya diri. 

Sulit Ketika Berpakaian atau Mengikat Tali Sepatu 

Berpakaian dan mengikat tali sepatu adalah aktivitas gerak yang membutuhkan koordinasi. 

Tanpa gerak koordinasi maka seorang anak akan sulit ketika berpakaian dan mengikat tali sepatu. 

Kondisi ini tentunya menunjukkan gejala seorang anak dispraksia. 

Nah itulah beberapa gejala yang dimiliki oleh anak-anak, sedangkan gejala pada remaja dan dewasa berbeda. 

Remaja dan dewasa yang mengalami dispraksia memiliki gejala, seperti postur tubuh yang tidak normal ketika berjalan. 

Selain itu, juga gangguan keseimbangan, sulit berolahraga, dan kurang percaya diri.  

Cara Mengatasi Anak Dispraksia 

Dispraksia

Bagaimana cara mengatasi anak dispraksia? Yuk ketahui nih cara mengatasinya.

Menurut Kemenkes RI, belum ada pengobatan yang bisa diberikan untuk kasus ini sampai sekarang. 

Meski demikian, jangan putus asa dulu ya, Moms! Dispraksia pada anak dengan gejala ringan perlahan bisa sembuh seiring bertambahnya usia loh, Moms.  

Asalkan, Moms dan keluarga memberikan dukungan dan kontribusi penuh pada proses anak mengejar keterlambatannya dibanding anak seusianya. 

Selain itu, Moms dan keluarga juga harus ikut mengatasi hambatan-hambatan yang dialami oleh anak. 

Nah, itulah cara mengatasinya dari lingkungan terdekat anak, yaitu dari orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitarnya. 

Lalu, adakah cara mengatasi dispraksia yang dilakukan secara medis? Jawabannya ada ya, Moms. Kemenkes RI menyebutkan beberapa terapi yang bisa diberikan dokter sebagai berikut:

  • Terapi okupasi, yaitu terapi untuk mengajarkan anak tentang cara praktis melakukan rutinitas keseharian. 
  • Fisioterapi, yaitu terapi untuk meningkatkan kemampuan motorik pada anak. 
  • Cognitive Behavioural Therapy (CBT), yaitu terapi untuk mengubah pola pikir anak terhadap keterbatasannya sehingga perilaku dan perasaannya menjadi lebih baik.

Itulah cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi anak dispraksia ya, Moms. 

Semoga saja dengan memahami artikel ini, Moms lebih waspada terhadap kondisi anak-anak ya, Moms. Atau bahkan bisa membantu dalam proses penyembuhan anak yang sedang mengalami hal ini. 

Waspada dengan kondisi anak juga bisa dilakukan dengan memberikan vitamin penambah nafsu makan anak ya, Moms. Misalnya dengan memberikan Madu Vitummy untuk anak. 

Madu Vitummy adalah madu herbal dengan ekstrak bahan alami yang memiliki banyak manfaat seperti berikut. 

  • Mengatasi cacingan pada anak dan orang dewasa
  • Mengatasi kurangnya nafsu makan
  • Menambah berat badan anak
  • Mengatasi perut buncit pada anak
  • Melancarkan pencernaan
  • Mengatasi masalah pencernaan seperti sembelit dll.
  • Menjaga daya tahan tubuh
  • Mengatasi pertumbuhan yang terhambat

Yuk Moms beri anak Madu Vitummy secara rutin dan rasakan manfaatnya!


Share on:

Seorang content writer brand support Madu Vitummy di Erdigma Indonesia. Dia menulis artikel tentang kesehatan, pola asuh, dan gaya hidup sehat. Selain itu, dia juga menyukai riset, membaca buku, dan menulis.

Tinggalkan komentar