Puasa Ramadan adalah momen istimewa untuk melatih kesabaran dan membiasakan si Kecil belajar menahan lapar serta haus. Namun, di balik semangat tersebut, Moms tetap perlu memperhatikan kondisi fisik anak. Salah satu hal penting yang tidak boleh diabaikan adalah tanda anak kurang energi saat puasa.
Anak-anak masih berada dalam masa pertumbuhan sehingga kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineralnya lebih tinggi dibanding orang dewasa. Jika asupan tidak terpenuhi dengan baik saat sahur dan berbuka, tubuh si Kecil bisa menunjukkan beberapa tanda kekurangan energi.
Yuk, pahami lebih dalam agar puasa si Kecil tetap sehat, aman, dan penuh semangat!
Apakah Puasa Menyebabkan Kekurangan Energi?

Menurut rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak yang sudah memasuki usia sekolah dan ingin belajar puasa boleh melakukannya secara bertahap, asalkan kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi.
Puasa sendiri tidak secara langsung menyebabkan kekurangan energi, selama:
- Anak mendapatkan asupan karbohidrat kompleks saat sahur
- Konsumsi protein cukup
- Cairan terpenuhi saat berbuka hingga sebelum tidur
- Pola tidur tetap terjaga
Tubuh memiliki cadangan energi dalam bentuk glikogen di hati dan otot. Saat puasa, tubuh akan menggunakan cadangan tersebut. Jika sahur tidak optimal atau anak sulit makan, cadangan energi bisa cepat habis sehingga muncullah gejala lemas.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), anak dalam masa pertumbuhan membutuhkan keseimbangan energi dan zat gizi mikro agar perkembangan fisik dan kognitif tetap optimal. Artinya, kunci utama bukan pada puasanya, tetapi pada kualitas asupan dan pola makan yang tepat.
Tanda Anak Kurang Energi Saat Puasa

Moms perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku dan kondisi fisik si Kecil. Berikut beberapa tanda anak kurang energi saat puasa yang perlu diwaspadai:
1. Mudah Lelah dan Tidak Aktif
Jika biasanya si Kecil aktif bermain, namun saat puasa menjadi lebih banyak duduk, enggan bergerak, atau cepat capek, bisa jadi tubuhnya kekurangan energi. Energi berasal dari karbohidrat dan lemak yang diolah tubuh menjadi bahan bakar aktivitas.
2. Sulit Konsentrasi
Anak tampak sulit fokus saat belajar, mudah terdistraksi, atau mengeluh pusing ringan. Otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Kadar gula darah yang menurun drastis bisa memengaruhi kemampuan berpikir dan konsentrasi.
Baca Juga: Tanda Anak Sudah Siap Puasa.
3. Wajah Pucat
Wajah terlihat lebih pucat dari biasanya bisa menjadi tanda tubuh kekurangan asupan kalori atau zat besi. Jika disertai lemas berlebihan, Moms sebaiknya mempertimbangkan evaluasi pola makan anak.
4. Rewel dan Mudah Marah
Perubahan suasana hati juga bisa menjadi indikator. Anak yang kekurangan energi cenderung lebih sensitif karena tubuhnya sedang “menghemat” tenaga.
5. Mengeluh Pusing atau Mual
Jika si Kecil mengeluh pusing berat, gemetar, atau mual, itu bisa menjadi tanda gula darah terlalu rendah. Dalam kondisi ini, puasa sebaiknya dihentikan demi kesehatan anak.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, orang tua perlu memperhatikan tanda dehidrasi dan hipoglikemia ringan pada anak selama puasa. Jika gejala berat muncul seperti lemas ekstrem atau hampir pingsan, segera batalkan puasa dan berikan asupan makanan serta minuman.
Resep Sahur untuk Anak Agar Energi Maksimal

Agar si Kecil tetap kuat menjalani puasa, Moms perlu menyiapkan resep sahur untuk anak agar energi maksimal. Prinsipnya adalah kombinasi karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serat, dan cairan cukup.
Berikut contoh menu sahur yang bisa Moms coba:
1. Nasi Merah + Ayam Panggang + Tumis Brokoli
- Nasi merah mengandung karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat
- Ayam sebagai sumber protein membantu kenyang lebih lama
- Brokoli kaya serat dan vitamin
Menu ini membantu menjaga kestabilan gula darah lebih lama.
2. Oatmeal Susu + Pisang + Selai Kacang
- Oatmeal tinggi serat beta-glukan
- Pisang memberikan energi cepat
- Selai kacang mengandung lemak sehat
Kombinasi ini cocok untuk anak yang sulit makan nasi saat sahur.
3. Telur Orak-Arik + Roti Gandum + Alpukat
Protein dari telur membantu memperlambat rasa lapar, sedangkan alpukat memberikan lemak sehat yang menjadi cadangan energi tambahan.
Menjaga Nafsu Makan Anak Selama Ramadan dan Seterusnya dengan Vitummy

Selain memperhatikan menu sahur dan berbuka, menjaga nafsu makan anak juga menjadi tantangan tersendiri selama Ramadan. Perubahan jam makan dan pola tidur bisa membuat si Kecil menjadi lebih picky eater.
Di sinilah peran suplemen pendukung tumbuh kembang bisa membantu, tentunya sebagai pelengkap pola makan sehat. Salah satu cara menjaga nafsu makan anak selama Ramadan dan seterusnya adalah dengan memberikan multivitamin yang sesuai kebutuhan si Kecil, seperti Vitummy.
Vitummy menghadirkan Madu Vitummy dan Vitummy Fruveggie yang mampu mendukung nafsu makan dan asupan nutrisi hariannya. Dengan kombinasi nutrisi seimbang, istirahat cukup, dan dukungan vitamin yang tepat, si Kecil bisa tetap aktif selama Ramadan.
Yuk, dapatkan produknya sekarang juga melalui website resminya di www.maduvitummy.id!





