Growth Spurt Pada Anak, Pengertian dan Fase yang Dilewati

Growth Spurt Pada Anak

Moms, pernah nggak sih merasa kalau si Kecil cepat sekali tumbuh besar? Kondisi ini memang bisa terjadi pada anak-anak ya, Moms. Pasalnya, mereka akan melewati tiga fase pertumbuhan yang sangat cepat. Fase tersebut dinamakan growth spurt

Apa itu fase growth spurt pada anak? Artikel ini akan membahas secara detail mengenai hal tersebut, termasuk ciri-ciri dan hal-hal yang harus dilakukan dalam setiap fase. Yuk, simak selengkapnya di bawah ini! 

Apa itu Growth Spurts?

growth spurt pada anak

Melansir laman RS Pondok Indah, growth spurts adalah lonjakan pertumbuhan anak yang sangat cepat. Hal ini diukur dari pertumbuhan beberapa indikator, seperti tinggi badan, berat badan, dan ukuran lingkar kepala

Umumnya, fase growth spurt pada anak-anak akan terjadi sebanyak tiga kali semasa hidupnya. Masih dalam laman yang sama disebutkan bahwa fase pertama terjadi ketika usia awal bulan hingga 3 tahun, kemudian fase kedua ketika usia 3–9 tahun, dan fase ketiga ketika usia 10 tahun atau ketika masa pubertas. 

Sebagai orang tua, Moms harus tahu detail dari masing-masing fase tersebut: 

Fase 1 Growth Spurt 

Seperti telah disebutkan, lonjakan pertumbuhan yang sangat pesat pada fase pertama growth spurt terjadi ketika baru lahir hingga usia 3 tahun. Pada fase ini, bayi membutuhkan banyak nutrisi yang baik untuk mendukung pertumbuhannya yang pesat. 

Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang baik oleh orang tua akan mendukung lonjakan pertumbuhan bayi. Sebab, rata-rata bayi pada usia tersebut, berat badannya akan naik 800–1.000 gram/bulan. Biasanya, kondisi ini terjadi pada tiga bulan pertama kehidupan. 

Oleh karenanya, pengetahuan akan asupan nutrisi anak dan fase growth spurt sangat penting diketahui orang tua. 

Fase 2 Growth Spurt 

Selanjutnya, fase kedua ini terjadi ketika anak memasuki usia 3–9 tahun. Pada fase kedua, pertumbuhan anak mulai lambat, tidak seperti pada fase pertama. Meski demikian, fase ini masih dinamakan periode lonjakan pertumbuhan pada anak-anak. 

Kondisi tersebut menjadikan setiap orang tua tetap perlu memberikan asupan nutrisi yang cukup bagi tubuhnya. Sebab, nutrisi yang masuk ke tubuh akan mendukung pertumbuhan tubuhnya, seperti tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala. 

Oleh karenanya, meski pertumbuhannya tidak signifikan seperti pada fase pertama, namun pemenuhan nutrisi si Kecil harus selalu diperhatikan ya, Moms. 

Baca Juga: Perbedaan Pertumbuhan Anak Laki-laki dan Perempuan.

Fase 3 Growth Spurt  

Fase lonjakan pertumbuhan anak yang terakhir adalah ketika memasuki usia 10 tahun. Periode ini dinamakan puncak dari growth spurt, yaitu ketika anak-anak memasuki masa pubertas. 

Growth spurt pada usia pubertas biasanya sedikit berbeda antara laki-laki dan perempuan. Biasanya, puncak pada perempuan akan terjadi pada usia 11,5 tahun yang akan melambat pada usia 16 tahun. 

Bedanya dengan laki-laki, puncaknya akan terjadi pada usia 13,5 tahun dan akan melambat pada usia 18 tahun. Perbedaan puncak growth spurt pada fase ketiga anak-anak ini sangat perlu dipahami orang tua. Tujuannya agar bisa memutuskan tindakan yang tepat bagi si Kecil. 

Apa yang Harus Dilakukan saat Fase Growth Spurt?

growth spurt pada anak

Moms, memastikan si Kecil melewati fase lonjakan pertumbuhan sangatlah didukung oleh peran orang tua. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa hal berikut: 

Memastikan Kesehatan Anak 

Selain memasuki fase lonjakan pertumbuhan, anak-anak masih dalam fase riskan terhadap berbagai penyakit. Sebab, daya tahan tubuhnya belum terbentuk sempurna. Akibatnya, mereka mudah terkena infeksi, seperti diare, batuk, pilek, dan lain sebagainya. 

Memastikan kesehatan anak dalam fase growth spurt sangatlah penting bagi setiap orang tua. Alasannya tentu karena kesehatan tubuh akan memastikan pertumbuhan yang optimal, terutama pada tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepalanya. 

Sebaliknya, kondisi kesehatan yang buruk akan menghambat pertumbuhan si Kecil. Moms pasti tahu jika berat badan yang stagnan, misalnya terjadi selama 3–6 bulan akan menghambat pertumbuhan tinggi badan dan lingkar kepalanya. 

Oleh karenanya, Moms perlu memastikan kondisi kesehatan tubuh si Kecil tetap baik selama memasuki growth spurt

Memberikan Nutrisi yang Cukup 

Fase growth spurt sangat memerlukan banyak asupan nutrisi untuk mendukung pertumbuhannya. Meski demikian, orang tua perlu memperhatikan jenis nutrisi yang diperlukan pada setiap fasenya. 

Misalnya, pada fase satu ketika bayi baru lahir, Moms harus memberikan nutrisi dari Air Susu Ibu (ASI). Pasalnya, bayi belum bisa mengonsumsi makanan lain untuk mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi dalam tubuhnya. 

Berbeda dengan anak-anak usia sekolah dasar yang memasuki growth spurt fase dua. Pada fase ini, mereka membutuhkan asupan nutrisi dari makanan padat, seperti makanan bergizi seimbang (4 sehat 5 sempurna). Bahkan, beberapa orang tua menambahkan suplemen. 

Memberikan nutrisi yang cukup pada anak dalam fase lonjakan pertumbuhan akan memberikan hasil yang optimal. Oleh karenanya, pengetahuan akan nutrisi seimbang bagi si Kecil sangat penting untuk Moms ketahui. 

Membiasakan Aktivitas Fisik pada Anak-anak 

Aktivitas fisik sangat mendukung fase growth spurt bagi anak-anak. Sebab, dengan melakukan aktivitas, seperti olahraga ringan, berlari, berenang, dan bermain sepeda dapat merangsang otot dan tulang. 

Manfaatnya, otot-otot tubuh akan lebih fleksibel dan semakin kuat. Tidak hanya itu, tulang-tulang dalam tubuh juga akan terbiasa menghadapi berbagai aktivitas. Hasilnya, pertumbuhan dalam tubuh anak bisa lebih optimal. 

Memastikan Waktu Tidurnya Tercukupi 

Setiap orang, termasuk anak-anak memerlukan waktu istirahat dalam hal ini tidur. Meski demikian, kebutuhan akan tidur ini bisa berbeda-beda antara satu anak dengan anak yang lain. 

Kemenkes RI mengkategorikan lamanya waktu tidur berdasarkan usia seperti berikut: 

  • Bayi baru lahir (0–3 bulan) membutuhkan waktu tidur sekitar 14–17 jam/hari. 
  • Bayi usia 4–12 bulan membutuhkan waktu tidur sekitar 12–16 jam/hari. 
  • Balita usia 1-2 tahun membutuhkan waktu tidur sekitar 11–14 jam/hari. 
  • Usia prasekolah 3–5 tahun membutuhkan waktu tidur 10–13 jam/hari. 
  • Usia 6–12 tahun membutuhkan waktu tidur 10 jam/hari. 
  • Usia 12-18 tahun membutuhkan waktu tidur 8–9 jam/hari. 

Moms perlu memastikan si Kecil memiliki waktu tidur sesuai yang disarankan oleh Kemenkes RI. Hal ini akan menentukan pertumbuhannya yang optimal. 

Mengamati Pertumbuhan Anak 

Selain mengamati waktu tidurnya, Moms juga harus mengamati pertumbuhan si Kecil. Hal ini bisa dilakukan dengan growth chart yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Melalui cara ini, Moms bisa memastikan pertumbuhan yang terjadi sudah sesuai dengan anak seusianya atau belum. 

Ciri Growth Spurt pada Anak

Ciri Growth Spurt pada Anak

Setelah tahu langkah-langkah yang harus Moms lakukan, kini saatnya memahami ciri-cirinya. Tujuannya agar orang tua bisa mengetahui bahwa lonjakan pertumbuhan pertumbuhan pada anak terjadi secara optimal. 

Berikut ciri-ciri yang umumnya bisa dilihat: 

  • Tinggi badan bertambah 
  • Berat badan bertambah 
  • Lingkar kepala bertambah 
  • Nafsu makan meningkat 
  • Ukuran kaki bertambah 
  • Sendi yang menonjol dengan tulang yang besar 

Itulah beberapa ciri yang bisa langsung dilihat ketika anak memasuki fase-fase growth spurt

Perbedaan Kolik dan Growth Spurt

Perbedaan Kolik dan Growth Spurt

Kini, apa bedanya growth spurt dengan kolik? Sejauh ini, Moms pasti sudah paham akan growth spurt, namun belum pada kolik. Nah, kolik itu sendiri merupakan kondisi ketika bayi yang sehat sering nangis.

Untuk lebih jelasnya, berikut tabel perbedaan Kolik dan Growth Spurt yang harus Moms ketahui: 

Tabel Perbedaan Kolik dengan Growth Spurt

AspekKolikGrowth Spurt
DefinisiKondisi di mana bayi yang sehat menangis sangat lama, sering tanpa penyebab yang jelas. Periode di mana bayi atau anak mengalami pertumbuhan fisik atau lonjakan pertumbuhan (tinggi/berat badan/lingkar kepala) dengan cepat dalam waktu singkat.
Ciri-khas / GejalaTangisan panjang > 3 jam/hari, > 3 hari/minggu, > 3 minggu (kriteria “rule of three”). Sering muncul di malam atau sore hari. Bayi tampak sehat, makan dan tumbuh normal (umumnya). Tingkat lapar meningkat, sering ingin menyusu atau makan lebih sering. Bisa menjadi lebih rewel, tidurnya berubah (lebih sering atau sebaliknya).Peningkatan tinggi badan/berat badan/pertumbuhan fisik. 
Usia Kejadian / Umur UmumUmumnya mulai dalam beberapa minggu pertama kehidupan; paling sering sekitar usia 2-6 minggu dan biasanya hilang sekitar 3-4 bulan. Banyak terjadi pada bayi selama tahun pertama (misalnya usia beberapa minggu, 6 minggu, 3 bulan, 6 bulan) dan juga selama masa anak-anak/pra-remaja. 
DurasiBisa berlangsung hingga beberapa minggu (contoh: >3 minggu) dan biasanya membaik dengan sendirinya sebelum bayi berumur ~3-4 bulan.Periode biasanya singkat relatif terhadap keseluruhan pertumbuhan (misalnya beberapa hari hingga beberapa minggu) untuk “ledakan” pertumbuhan fisik. 
Penyebab / MekanismeTidak diketahui secara pasti. Banyak teori: gangguan usus/“gas”, imaturitas saluran pencernaan, faktor psikososial. Dorongan hormon, genetik, nutrisi, perkembangan fisik, pertumbuhan cepat sebagai bagian normal dari perkembangan. 
Dampak / Perlu Dilihat DokterMeskipun pada bayi sehat, tangisan berkepanjangan bisa membuat stres orang tua serta perlu pengecualian penyebab lain (misalnya infeksi, prolaps, hernia) bila ada tanda bahaya. Umumnya tidak berbahaya, bagian dari perkembangan normal. Namun jika terdapat gejala seperti pertumbuhan tidak sesuai, sakit, atau gejala lain yang mencurigakan, perlu konsultasi ke dokter. 
Apa yang dilakukan orang tua / dukunganMenenangkan bayi: posisi nyaman, bergerak, latih pencernaan (misalnya pijat perut lembut)Memberikan dukungan emosional kepada orang tua — karena stres tangisan berlebihMengamati dan berkonsultasi jika ada gejala lain seperti demam, tidak menyusu, muntah yang berlebihan.Biarkan bayi mengonsumsi makanan atau susu sesuai kebutuhan (untuk bayi menyusu lebih sering).Pastikan nutrisi dan tidur cukup. Bersabar dengan perubahan pola (nafsu makan, tidur) dan terus pantau pertumbuhan secara rutin (timbang, ukur). 

Itulah perbedaan kolik dengan growth spurt. Mengetahui perbedaan tersebut akan membantu Moms dalam melihat kondisi si Kecil. Sebab, di masa growth spurt, anak butuh asupan lebih banyak agar pertumbuhan tinggi, berat badan, dan daya tahan tubuhnya optimal. Tapi sering kali anak justru susah makan, rewel, dan pola tidurnya berubah orang tua jadi kewalahan.

Vitummy Fruveggie

Kalau tubuhnya kekurangan nutrisi di fase golden moment ini, hasil pertumbuhan bisa kurang maksimal. Anak gampang lemas, gampang sakit, dan potensi tumbuh tingginya bisa terhambat. Padahal fase growth spurt tidak terulang dua kali.

Bantu penuhi nutrisinya dengan Madu Vitummy untuk nafsu makan & daya tahan tubuhnya, serta Vitummy Fruveggie yang kaya serat, sayur, buah, dan vitamin agar tumbuh kembangnya semakin optimal. Yuk, dapatkan produknya sekarang juga! 

Share:
Facebook
Twitter
LinkedIn

Tinggalkan komentar