Cara Mengatasi Diare pada Anak

Anak-anak sangat rentan terkena diare karena sistem kekebalan tubuhnya belum terbentuk dengan sempurna. Gangguan pencernaan tersebut membuat para orang tua khawatir dan bertanya-tanya, apa yang mereka makan sebelumnya hingga bisa terkena diare? Apakah perlu ke dokter atau cukup diatasi dengan perawatan rumahan saja?

Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, Mindy akan menjelaskan tentang apa itu diare dan bagaimana cara mengatasinya.

Lantas, Apa Itu Diare?

Diare atau mencret merupakan gangguan pencernaan yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi buang air besar (lebih dari tiga kali dalam sehari) dengan tekstur feses cair.

Ada dua jenis diare yang dapat dialami oleh anak-anak, diare akut dan diare kronis.

  • Diare akut
    Berlangsung selama satu hingga dua hari, dan biasanya akan sembuh dengan sendirinya. Kondisi ini terjadi ketika makanan atau minuman yang dikonsumsi terkontaminasi oleh bakteri.
  • Diare kronis
    Anak akan dikatakan mengalami diare kronis apabila kondisi ini berlangsung selama lebih dari tiga hari atau bahkan berlangsung selama beberapa minggu. Penyebab umum penyakit ini meliputi:

    – Sindrom iritasi usus atau IBS (irritable bowel syndrome).
    – Penyakit radang usus alias IBD (inflammatory bowel diseases).
    – Kondisi penyakit celiac yang mempengaruhi penyerapan nutrisi anak.

Penyebab Diare pada Anak

Gangguan pencernaan pada anak dipengengaruhi oleh kebersihan lingkungan. Kondisi lingkungan yang tidak bersih dapat meningkatkan risiko anak untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh mikroorganisme seperti parasit, virus, maupun bakteri penyebab diare.

Simak Juga Nih!

Yuk Baca: Pahami mom’s, inilah alasan sesak pada saat hamil.

Untuk lebih jelasnya lagi, berikut adalah beberapa penyebab yang paling umum menyebabkan gangguan pencernaan pada anak:

  • Alergi makanan, seperti intoleransi laktosa atau alergi susu.
  • Keracunan
  • Perubahan pola makan
  • Infeksi virus, termasuk rotavirus, norovirus, dan gastroenteritis virus.
  • Bakteri, termasuk Salmonella dan E. coli, Campylobacter, dan Shigella.
  • Parasit, seperti infeksi cacing parasit, giardiasis dan kriptosporidiosis.
  • Masalah saluran pencernaan, seperti radang usus atau intususepsi.
  • Penyakit cystic fibrosis atau penyakit celiac.

Gejala Diare dan Dehidrasi pada Anak

Tidak hanya frekuensi buang air besar yang meningkat serta perubahan tekstur feses menjadi cair, gangguan pencernaan ini juga bisa disertai dengan gejala lainnya, seperti demam, perut kembung, mual, muntah, nyeri perut dan lemas.

Moms harus waspada apabila si kecil mulai tampak lemas dan pucat, mata cekung, mulut dan bibir kering, kehausan, badan terasa dingin, urin berwarna kuning pekat kecoklatan, air mata tidak keluar saat menangis, dan mengantuk secara terus menerus.

Itu semua merupakan tanda si kecil mengalami dehidrasi alias kekurangan cairan tubuh. Ketika diare, tubuh si kecil kehilangan banyak cairan dan elektrolit secara cepat. Jika hal ini tidak segera diatasi, dehidrasi pada si kecil dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti penurunan kesadaran, kejang, kerusakan otak, hingga bahkan kematian.

Menurut data dari jurnal National Library of Medicine, situs kesehatan resmi milik Amerika Serikat, gangguan pencernaan seperti diare dan dehidrasi berat menjadi penyebab utama kematian anak di seluruh dunia, terutama pada anak-anak di bawah usia lima tahun.

Cara Mengatasi Diare pada Anak

Berikut adalah langkah-langkah untuk mengatasi diare pada anak. Tidak perlu panik, yuk ketahui tata caranya.

vitummy | Cara Mengatasi Diare pada Anak
Ilustrasi ibu sedang memenuhi kebutuhan cairan bayi

Penuhi kebutuhan cairannya

Ketika si kecil mengalami frekuensi buang air besar yang meningkat, hal yang paling penting untuk dilakukan oleh orang tua adalah memastikan kebutuhan cairan si kecil terpenuhi agar ia terhindar dari dehidrasi. Pastikan kebersihan air yang akan diminumnya ya moms. Hindari memberikan jus pada si kecil karena cenderung memicu sakit perut berlebih dan memperburuk keadaan.

Selain itu, moms juga dapat memberikannya oralit untuk mencegah dehidrasi sampai kondisi si kecil membaik. Jika si kecil berusia di bawah 6 bulan, moms bisa memberikan ASI lebih sering dan lebih lama dari biasanya. Paling sedikit 8 kali sehari (pagi, siang, maupun malam). Jangan berikan makanan atau minuman lain selain ASI atau susu formula ya.

Berikan obat zinc

Dikutip dari situs kemkes.go.id, untuk mengurangi gejala yang parah, berikan obat zinc yang tersedia di apotek, puskesmas, atau rumah sakit secara sesekali selama 10 hari berturut-turut meskipun gejala sudah berhenti. Obat ini dapat mengurangi durasi diare dan mencegah terjadinya diare ulang selama 2-3 bulan kedepan.

Konsumsi makanan bertekstur lembut dan mudah dicerna

vitummy | Cara Mengatasi Diare pada Anak
Ilustrasi bubur sebagai makanan yang mudah dicerna

Ketika gangguan pencernaan pada anak menyerang, seringkali para orang tua kebingungan makanan apa yang harus dikonsumsi oleh si kecil. Berikanlah ia makanan lembut seperti bubur, nasi tim, telur matang, sup ayam hangat, sereal, sayur-sayuran yang dimasak, daging sapi, dan ikan.

Hindari memberikannya makanan sayuran yang mengandung gas seperti brokoli, sayuran hijau, paprika, jagung, kacang polong, makanan olahan yang mengandung santan, gorengan, makanan pedas, makanan siap saji, dan minuman bersoda.

Makanan dalam jumlah porsi kecil

Gangguan pencernaan pada anak dapat menurunkan nafsu makannya. Meski demikian, ia harus tetap makan agar asupan nutrisi yang terbuang terisi kembali sehingga ia cepat pulih. Alih-alih memberinya makanan dalam jumlah porsi besar, sebaiknya akali dengan memberikan makanan dalam porsi kecil. Memberikan makanan dalam jumlah porsi besar justru malah akan membuat perutnya semakin sakit karena sistem pencernaanya harus bekerja lebih keras lagi.

Cara Mencegahnya

vitummy | Cara Mengatasi Diare pada Anak
Ilustrasi anak sedang mencuci tangan
  • Memastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi bersih dan matang. Hindari memberikan makanan seperti daging, ikan, atau telur setengah matang. Telur setengah matang berisiko si kecil terkena bakteri Salmonella dari cangkang telur.
  • Membiasakan si kecil untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah buang air besar (berisiko tertular bakteri E. Coli dari tinja) atau kecil, dan setelah memegang benda kotor.
  • Jaga kebersihan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa lingkungan yang kotor membuat si kecil lebih rentan terkena diare. Jagalah kebersihan rumah, mulai dari ruang tamu, kamar mandi, dapur, hingga kamar si kecil.
  • Hindari jajan sembarangan, jajan merupakan hal yang disukai semua umur, terutama anak-anak, alih-alih membiarkan si kecil jajan sembarangan yang kebersihannya belum tentu terjaga, sebaiknya moms lebih rajin dalam membuat cemilan untuknya agar ia tidak jajan sembarangan.
  • Hindari konsumsi susu yang belum dipasteurisasi. Susu yang telah dipasteurisasi lebih aman karena telah melalui proses pembunuhan bakteri tertentu.
  • Rutin mengonsumsi vitamin, terutama yang mengandung ekstrak obat cacing seperti temulawak dan bawang putih.

Kapan Harus Periksa ke Dokter

vitummy | Cara Mengatasi Diare pada Anak
Ilustrasi bayi demam di atas 39 derajat celcius

Pada anak-anak, gangguan pencernaan dapat dengan mudah menyebabkan ia terkena dehidrasi. Segera periksa ke dokter apabila gangguan pencernaan tidak membaik dalam 24 jam, mengalami demam diatas 39 derajat celcius, serta tinja berdarah atau berwarna hitam. Itu semua adalah tanda iritasi pada sistem pencernaannya.

Itulah seputar informasi mengenai diare pada anak, semoga artikel ini dapat membantu moms dalam menjaga kesehatan pencernaan si kecil. Untuk mencegah gangguan pencernaan dan meningkatkan nafsu makan si kecil, konsumsilah Madu Vitummy setiap hari pagi dan malam sebelum tidur. Anak sehat ibu tenang.


Share on:

Seorang pembelajar yang tertarik dengan hal-hal kesehatan dan digital, serta gemar dalam membuat konten artikel terkait gaya hidup sehat.

Tinggalkan komentar